Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

"Mari kita jalin rasa kekeluargaan diantara kita"

Ditinggal Makan di Alun-alun, Mio Hitam Amblas

Klaten – Ditinggal makan di Alun-alun Klaten, motor kesayangan Sumarjo (33), warga Sumber Agung, Burikan, Cawas, raib dicuri orang. Akibatnya, korban menderita kerugian hingga Rp 10 juta rupiah.

Informasi dihimpun, peristiwa pencurian terjadi pada Kamis (21/8) malam. Ketika itu, korban bersama seorang temannya hendak makan malam di Alun-alun Klaten.

“Sebelum keluar ke alun-alun, saya menitipkan sepeda motor di halaman Kantor Multintes Dealer Telkomsel Klaten, di Kelurahan Semangkak, Klaten Tengah, dalam posisi dikunci stang sekitar pukul 19.00 WIB,” ujar Sumarjo, Sabtu (23/8).

Selang beberapa jam kemudian, korban dan rekannya mendapati Yamaha Mio hitam bernopol AD 5604 UL miliknya sudah tak ada di tempat.

“Setelah mengetahui motor saya hilang, saya pun melaporkan kejadian pencurian tersebut ke Polsek Kota Klaten. Pasalnya, setelah saya cari-cari dan tanya ke warga sekitar, tidak ada yang tahu keberadaan motor saya,” imbuh korban.

Menanggapi hal itu, Kasi Humas Polsek Kota Klaten, Aiptu Sukarsono, mengatakan, pihaknya telah menerima laporan itu dan tengah mengumpulkan keterangan dari korban dan saksi.

“Saat ini kasus pencurian sepeda motor tersebut masih dalam penyelidikan,” ujarnya.

Dari: Timlo.net

Iklan

25 Agustus 2014 Posted by | Burikan, Kriminalitas | | Tinggalkan komentar

Batu Longsor dari Tebing di Cawas akan Dipecah

Ilustrasi (JIBI/Solopos/Burhan Aris Nugraha)Ilustrasi (JIBI/Solopos/Burhan Aris Nugraha)


Solopos.com, KLATEN—Batu seukuran rumah yang longsor dari tebing kapur di Mundon, Burikan, Cawas dalam waktu dekat ini akan dipecah. Hal itu untuk mengantisipasi longsornya batu tersebut ke area pemukiman penduduk yang ada di bawahnya.

Kepala Bidang (Kabid) Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Joko Roekminto, mengatakan rencana pemecahan batu tersebut merupakan upaya untuk menjauhkan masyarakat dari bencana. “Rencana itu harus segera dilakukan untuk menghindari potensi bahaya yang bisa mengancam keselamatan masyarakat,” paparnya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis (23/1/2014).

Dia mengatakan pemecahan batu merupakan salah satu upaya yang paling efektif yang bisa dilakukan saat ini. Sebab, batu besar seukuran rumah itu juga tidak mungkin untuk dipindahkan. “Jika dipindahkan dengan alat berat akan sangat sulit, medannya juga terjal,” imbuhnya. Selain itu, sambungnya, batu yang telah dipecah bisa dimanfaatkan warga untuk membangun talut. Joko mengatakan rencana tersebut sudah dia sampaikan kepada Pemerintah Desa (Pemdes) Burikan.

Namun, saat ini belum dilaksanakan karena masih menunggu konfirmasi dari Pemdes setempat. BPBD pun berjanji akan membiayai proses pemecahan batu tersebut.

BPBD juga sudah memberikan alternatif menyediakan tenaga pemecah batu dari lereng Gunung Merapi. Kendati demikian, pihak desa menyatakan mampu memecah batu dengan warga setempat. “Biaya pemecahan batu akan kami tanggung dan kapan pelaksanaanya masih menunggu konfirmasi Pak Kades,” paparnya.

Sementara, Kepala Desa Burikan, Maryadi, mengatakan kondisi batu yang longsor semakin mengkhawatirkan. “Apalagi saat ini intensitas hujan masih tinggi, sehingga semakin berbahaya jika longsor lagi,” katanya saat dihubungi solopos.com, Kamis.

Dia membenarkan bahwa pemecahan batu belum bisa dilaksanakan. Hal itu disebabkan karena pihaknya masih menunggu konfirmasi dari Pemdes Tancep, Ngawen, Gunung Kidul selaku pemilik wilayah tebing kapur.

Pihaknya sudah berkali-kali menghubungi Pemdes Tancep, namun selalu gagal. Pihaknya pun menargetkan pemecahan batu bisa dilaksanakan pada Januari ini.

Editor:  | dalam: Klaten |

27 Januari 2014 Posted by | Bencana, Burikan | , | Tinggalkan komentar

Gempa Kebumen, BPBD Klaten Waspadai Merapi dan Bukit Putih Rawan Longsor

– Timlo.net
Dok.Timlo.net/ BramDok.Timlo.net/ Bram

Puncak Merapi pasca Erupsi tahun 2010. (Foto diambil tahun 2010).

Klaten — Meskipun gempa di Kebumen yang terjadi Sabtu (25/1) siang tidak berdampak langsung, tapi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten mewaspadai dampak gempa di Merapi dan bukit putih yang rawan longsor.

Waspada dampak gempa bumi yang terjadi di barat daya Kebumen dengan kekuatan 6,5 SR itu karena dikhawatirkan mempengaruhi aktivitas gunung Merapi dan pergerakan tanah maupun bebatuan di bukit Burikan Cawas serta Ngandong, Gantiwarno.

Khusus untuk Merapi sudah ada penjelasan langsung dari Kepala BPPTK, Subandriyo bahwa gempa tidak berpengaruh langsung terhadap aktivitas Merapi. Namun, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan karena laporan dari relawan terjadi guguran. Apalagi di puncak Merapi dan sekitarnya terjadi hujan deras sehingga dikhawatirkan letusan freatik Merapi bisa terjadi setelah puncak merapi diguyur hujan dan diguncang gempa.

Kepala BPBD Klaten, Sri Winoto, mengatakan di Klaten belum ada laporan bangunan yang rusak akibat gempa. “Saat ini kami terus menjalin
komunikasi kepada semua pihak yang terkait untuk lebih waspada. Masyarakat tidak perlu panik dan mempercayai isu menyesatkan yang
penting waspada,” ujar Sri Winoto.

Sri Winoto menambahkan saat ini pihaknya terus memantau bukit putih di Cawas yang rawan longsor.
Editor : Abednego Afriadi

26 Januari 2014 Posted by | Bencana, Burikan | , | Tinggalkan komentar

Warga Mundon, Burikan Terancam Longsor Batu, BPBD Hanya Bisa Mengimbau

Solopos.com, KLATEN — Longsor batu tengah mengancam keselamatan warga Mundon, Burikan, Cawas, yang tinggal di bawah bukit kapur. Namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten tidak berbuat bisa banyak dan hanya mengimbau warga agar selalu waspada.

Pasalnya, bukit kapur yang longsor itu sudah masuk wilayah Kabupaten Gunung Kidul yang berbatasan langsung dengan Cawas, Klaten. Kepala BPBD Klaten, Sri Winoto, mengaku tidak bisa berbuat banyak dengan bencana batu seukuran rumah yang longsor tersebut. “Kami hanya meminta warga agar selalu waspada terhadap ancaman longsor susulan, terutama saat hujan deras,” katanya di Klaten, Jumat (17/1/2014).

Dalam waktu dekat ini, pihaknya mengaku akan mengirimkan surat kepada Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Klaten. Pengiriman surat itu bertujuan agar Bappeda segera berkoordinasi dengan Pemkab Gunung Kidul sebagai pemangku wilayah di sekitar bukit kapur yang longsor.

“Karena bukit kapur itu berada di wilayah lain, dalam hal ini Gunung Kidul, kami harus berkoordinasi terlebih dahulu. Sebab, bukit kapur yang ada di Tancep, Ngawen, Gunung kidul itu adalah wilayah perbatasan, harus dibicarakan antarkabupaten,” paparnya.

Hingga kini, BPBD belum menerima surat resmi dari pemerintah Desa Burikan, Cawas, terkait bantuan yang mereka butuhkan. Pihaknya mengaku siap memberikan bantuan jika dibutuhkan. Total, untuk penanganan kedaruratan, BPBD telah menyiapkan anggaran tidak terduga senilai Rp500 juta.

Sementara, Kepala Desa Burikan, Maryadi, mengaku berencana membangun parit supaya batu bisa terhenti saat terjadi longsoran susulan. Kendati demikian, dia belum mengetahui secara pasti kapan akan dimulai pembuatan parit tersebut. “Rencana kami membangun parit, tapi masih kami koordinasikan lagi,” katanya kepada wartawan, Kamis (16/1/2014).

Hingga saat ini, kata dia, di wilayah itu tidak ada kegiatan ronda malam. Hal itu membuat warga semakin waswas karena tidak ada warga yang berjaga saat malam hari. “Namun, yang paling membuat waswas adalah ketika terjadi hujan deras,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, batu seukuran rumah longsor dari tebing kapur yang ada di perbatasan Kabupaten Gunung Kidul dengan Klaten. Akibatnya, longsoran batu yang sangat besar itu mengancam keselamatan 15 warga Mundon, Burikan, Cawas, yang tinggal dibawah bukit.

Batu yang longsor itu memiliki panjang sekitar 8 m dan tinggi lebih dari 3 m. Batu yang jatuh dari tebing kapur setinggi 100-an m itu berhenti di balik rimbunnya semak-semak. Sementara, jarak batu yang longsor dengan rumah warga ada sekitar 300 meter.

18 Januari 2014 Posted by | Bencana, Burikan | , , , | Tinggalkan komentar

Longsor, Batu Sebesar Rumah Intai 15 Warga

warga memantau batu seukuran rumah yang longsor dari tebing kapur setinggi 100-an meter, Kamis (16/1). Kondisi itu mengancam keselamatan 15 warga Mundon, Burikan, Cawas yang tinggal di bawah bukit itu. (JIBI/Solopos/Ashoquib Angriawan)

warga memantau batu seukuran rumah yang longsor dari tebing kapur setinggi 100-an meter, Kamis (16/1). Kondisi itu mengancam keselamatan 15 warga Mundon, Burikan, Cawas yang tinggal di bawah bukit itu. (JIBI/Solopos/Ashoquib Angriawan)

Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos |

Solopos.com, KLATEN — Batu sebesar rumah longsor dan menggelinding dari tebing kapur di perbatasan Gunung Kidul-Klaten. Akibatnya, batu yang sangat besar itu mengancam keselamatan 15 warga Mundon, Burikan, Cawas, yang tinggal di bawah bukit.

Pantauan Solopos.com di lokasi, batu yang longsor itu memiliki panjang sekitar 8 m dan tinggi lebih dari 3 m. Batu yang jatuh dari tebing kapur setinggi 100-an m itu berhenti di balik rimbunnya semak-semak. Jarak batu yang longsor dengan rumah warga sekitar 300 meter. Kondisi tersebut membuat warga was-was karena sewaktu-waktu batu kembali meluncur dan mengancam keselamatan warga.

Sementara itu, tampak retakan-retakan di atas bukit. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran terjadinya longsor batu susulan. Salah satu warga setempat, Sugino, 40, mengatakan batu seukuran rumah itu longsor sejak pertengahan Desember lalu. Batu tersebut longsor saat hujan deras mengguyur kawasan Cawas dan sekitarnya selama tiga hari berturut-turut. “Rasanya was-was saat hujan karena batu bisa longsor kapan saja,” ungkapnya kepada wartawan di lokasi, Kamis.

Bersama puluhan warga lain, sambungnya, dia siap mengungsi jika kondisi benar-benar dalam bahaya. Pihaknya berharap agar pemerintah di dua kabupaten tersebut segera bertindak sebelum ada korban jiwa.

Sementara itu, Kepala Desa Burikan, Cawas, Maryadi, mengatakan ada delapan rumah warga yang terancam tertimpa batu yang longsor itu. “Delapan rumah itu dihuni sekitar 18 orang. Keselamatan belasan warga itu kini terancam,” paparnya kepada wartawan di lokasi, Kamis.

Dia mengaku khawatir saat terjadi hujan lebat. Pasalnya, batu biasanya bergerak karena tanah dibawahnya cukup labil. Pihaknya meminta agar pemerintah segera bertindak.

18 Januari 2014 Posted by | Bencana, Burikan | , | Tinggalkan komentar