Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

"Mari kita jalin rasa kekeluargaan diantara kita"

Kisah Para Orangtua Kurang Mampu Banggakan Anaknya Masuk UGM

Penghasilan Muji Lestari, Wagiman, dan Agus Wantoro memang tidak seberapa. Berkat doa yang tidak terputus, putra-putri mereka bisa jadi mahasiswa tanpa biaya.

Dream – Muji Lestari, 55 tahun, berdiri di atas mimbar berlapis karpet merah. Sikapnya tegap, terlihat dia tengah gugup menghadapi ribuan pasang mata yang menyorotnya.

Tidak lama berselang, seorang wanita berhijab mendekatinya. Wanita tersebut membawa satu unit sepeda yang kemudian diberikan kepada Muji. Seketika, Muji menangis di hadapan wanita itu, yang tidak lain merupakan Dwikorita Karnawati, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM).

Bukan sepeda itu yang membuat air mata Muji menetes. Tapi kisah perjuangan sang putra, Ihsan Tanoto Mulyo, yang bisa masuk dalam daftar mahasiswa baru universitas berjuluk ‘Kampus Kerakyatan’ itu.

Muji tidak pernah membayangkan anaknya bisa melanjutkan kuliah di salah satu universitas kenamaan di Indonesia itu. Pendapatan Muji sebagai pengrajin serbet asal Cawas, Klaten ini tidak akan pernah bisa membiayai Ihsan kuliah.

Tetapi, ada satu hal yang membuat Muji bangga pada sang putra. Ihsan adalah sosok yang memang rajin belajar.

“Sejak kecil anaknya sudah bercita-cita ingin kuliah, saya hanya bisa mendorong hanya dengan berdoa,” ujar Muji, dikutip Dream dari ugm.ac.id, Jumat, 21 Agustus 2015.

Menurut Muji, Ihsan sebenarnya sempat akan mengikuti program pertukaran pelajar. Tetapi, Muji tidak berkenan dan lebih setuju anaknya kuliah.

“Semangatnya tinggi, ingin melanjutkan sekolah. Ia sempat dapat ikut (program) pertukaran pelajar, saya meminta untuk kuliah saja,” kata dia.

Kini, Ihsan berkuliah di Program Studi Elektronika dan Instrumentasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 2015-2016.

Senada dengan Muji, Wagiman, 65 tahun juga punya kebanggaan tersendiri kepada anaknya, Sudarmono, 18 tahun lantaran bisa menjadi mahasiswa Fakultas Peternakan UGM. Kesulitan ekonomi yang dihadapi Wagiman berprofesi sebagai tukang becak berpenghasilan Rp20.000 sehari di Bayat, Klaten ini tidak menyurutkan semangat putranya.

“Keinginan saya sederhana, Sudarmono bisa lancar kuliahnya, bisa selesai S1,” ungkap Wagiman.

Sementara Agus Wantoro, 47 tahun merasakan kebahagiaan yang sama. Meski dia hanya tukang ojek di Danurejan, Mertoyudan, Magelang, Agus bisa bangga pada putrinya, Siti Nur Haliza bisa kuliah.

“Sewaktu anak saya sekolah SMP hingga SMA, saya hanya berdoa dengan puasa Senin Kamis agar anak saya diterima masuk ke UGM,” ungkap dia.

22 Agustus 2015 - Posted by | Uncategorized |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: