Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

"Mari kita jalin rasa kekeluargaan diantara kita"

Demi Ternak, Warga Bayat Ngarit ke Cawas

Solopos.com, KLATEN — Kekeringan yang masih melanda wilayah Kecamatan Bayat Klaten, menyulitkan para peternak setempat mencari pakan ternak. Mereka terpaksa menempuh perjalanan ke Cawas untuk mendapatkan pakan.
Jumino, 53, seorang peternak asal Dusun Jerukan, Desa Dukuh, Kecamatan Bayat, mengaku sengaja datang ke Cawas untuk mencari pakan ternak berupa damen di sebidang sawah di Plosowangi Kulon, Plosowangi, Cawas. Menurutnya, saat ini damen sangat sulit didapatkan di Bayat.
Dia juga harus bisa mengatur pengeluarannya karena saat ini harga pakan ternak juga sangat mahal. Dia rela menempuh jarak yang cukup jauh demi satu ekor sapi yang dia rawat di kediamannya

Warga mengais damen sisa tanaman padi yang dipanen beberapa waktu lalu di Plosowangi, Cawas, Jumat (1/11). (Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos)

Warga mengais damen sisa tanaman padi yang dipanen beberapa waktu lalu di Plosowangi, Cawas, Jumat (1/11). (Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos)

. Apalagi, sapi tersebut merupakan barang berharga bagi keluarganya dan memiliki nilai jual tinggi. Jumino biasa ngarit hingga ke Cawas setiap pagi. “Saya mengambil tanaman padi yang tidak lagi dimanfaatkan oleh petani, terutama yang gagal panen dan lokasinya berpindah-pindah,” ungkapnya kepada Solopos.com di lokasi, Jumat (01/11/2013).
Padahal, Cawas juga menjadi salah satu kecamatan yang terkena dampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Puluhan hektar sawah gagal panen akibat musibah tersebut. “Biasanya, saya cari pakan di Bayat, tapi di kecamatan saya cari pakan ya susah karena kekeringan juga,” ungkapnya.
Sebenarnya, Jumino, memiliki sawah seluas sekitar 700 meter persegi. Namun, sawah miliknya saat ini tidak ditanami akibat kekurangan air tersebut. Dia juga tidak bisa memanfaatkan tanah sawah miliknya untuk dibuat sebagai batu-bata. Pasalnya, tanah di Bayat bercampur batu kerikil dan gamping. “Jika [tanah] dibuat batu bata, saat dikeringkan akan pecah. Jadi tidak bagus dibuat batu-bata,” paparnya.
Lebih lanjut, Jumino mengungkapkan hujan yang telah mengguyur kawasan Klaten dan sekitarnya selama beberapa hari terakhir belum cukup mengurangi dampak kekeringan. Dirinya dan sejumlah petani lain hanya berani memanam padi saat musim hujan benar-benar tiba.
Sementara itu, salah satu warga Plosowangi, Cawas, Rubiyatun, 46, mengatakan tanaman padi yang gagal panen membawa berkah bagi peternak sapi. “Sisa tanaman padi bisa diambil warga untuk pakan ternak,” jelasnya kepada Solopos.com di lokasi, Jumat.
Kebetulan, Rubiyatun, merupakan salah satu warga yang memanfaatkan sisa tanaman tersebut. Menurutnya, selain warga Bayat dan sekitarnya, ada pula warga dari Gunungkidul yang mencari pakan hingga ke Cawas.

1 November 2013 - Posted by | Pertanian, Plosowangi | , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: