Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

"Mari kita jalin rasa kekeluargaan diantara kita"

Longsor Bukit Putih Ancam Warga Klaten

Metrotvnews.com, Klaten: Bukit Putih di perbatasan antara Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dan Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berpotensi longsor jika curah hujan tinggi.

Warga Desa Burikan, Kecamatan Cawas, Klaten, yang berada pada radius sekitar 100 meter dari Bukit Putih diminta agar mewaspadai ancaman bencana tersebut.

Selain Bukit Putih, talud bukit di Desa Gedangsari, Gunungkidul, yang berbatasan dengan Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, juga
berpotensi longsor jika hujan deras.

“Tekstur tanah di perbukitan itu labil. Mudah longsor jika diguyur hujan deras,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Joko Rukminto.

Saat ditemui di kantornya, Selasa (26/11), ia mengungkapkan Bukit Putih pada musim hujan dua tahun lalu pernah longsor. Seorang warga Dusun
Mundon, Gito Tinoyo, 70, tewas dalam musibah tersebut.

Selain itu, rumah milik korban hancur tertibum dan dua rumah warga lainnya rusak akibat diterjang lumpur dan batu yang longsor dari atas bukit. Musibah itu terjadi pada 2 Februarui lalu.

Sementara itu, warga yang bertempat tinggal di bawah bukit khawatir setiap kali hujan deras. “Karena itu, warga kini menggiatkan lagi ronda,” kata Sutono. (Djoko Sardjono)
Editor: Patna Budi Utami

27 November 2013 Posted by | Burikan | | Tinggalkan komentar

Demi Ternak, Warga Bayat Ngarit ke Cawas

Solopos.com, KLATEN — Kekeringan yang masih melanda wilayah Kecamatan Bayat Klaten, menyulitkan para peternak setempat mencari pakan ternak. Mereka terpaksa menempuh perjalanan ke Cawas untuk mendapatkan pakan.
Jumino, 53, seorang peternak asal Dusun Jerukan, Desa Dukuh, Kecamatan Bayat, mengaku sengaja datang ke Cawas untuk mencari pakan ternak berupa damen di sebidang sawah di Plosowangi Kulon, Plosowangi, Cawas. Menurutnya, saat ini damen sangat sulit didapatkan di Bayat.
Dia juga harus bisa mengatur pengeluarannya karena saat ini harga pakan ternak juga sangat mahal. Dia rela menempuh jarak yang cukup jauh demi satu ekor sapi yang dia rawat di kediamannya

Warga mengais damen sisa tanaman padi yang dipanen beberapa waktu lalu di Plosowangi, Cawas, Jumat (1/11). (Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos)

Warga mengais damen sisa tanaman padi yang dipanen beberapa waktu lalu di Plosowangi, Cawas, Jumat (1/11). (Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos)

. Apalagi, sapi tersebut merupakan barang berharga bagi keluarganya dan memiliki nilai jual tinggi. Jumino biasa ngarit hingga ke Cawas setiap pagi. “Saya mengambil tanaman padi yang tidak lagi dimanfaatkan oleh petani, terutama yang gagal panen dan lokasinya berpindah-pindah,” ungkapnya kepada Solopos.com di lokasi, Jumat (01/11/2013).
Padahal, Cawas juga menjadi salah satu kecamatan yang terkena dampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Puluhan hektar sawah gagal panen akibat musibah tersebut. “Biasanya, saya cari pakan di Bayat, tapi di kecamatan saya cari pakan ya susah karena kekeringan juga,” ungkapnya.
Sebenarnya, Jumino, memiliki sawah seluas sekitar 700 meter persegi. Namun, sawah miliknya saat ini tidak ditanami akibat kekurangan air tersebut. Dia juga tidak bisa memanfaatkan tanah sawah miliknya untuk dibuat sebagai batu-bata. Pasalnya, tanah di Bayat bercampur batu kerikil dan gamping. “Jika [tanah] dibuat batu bata, saat dikeringkan akan pecah. Jadi tidak bagus dibuat batu-bata,” paparnya.
Lebih lanjut, Jumino mengungkapkan hujan yang telah mengguyur kawasan Klaten dan sekitarnya selama beberapa hari terakhir belum cukup mengurangi dampak kekeringan. Dirinya dan sejumlah petani lain hanya berani memanam padi saat musim hujan benar-benar tiba.
Sementara itu, salah satu warga Plosowangi, Cawas, Rubiyatun, 46, mengatakan tanaman padi yang gagal panen membawa berkah bagi peternak sapi. “Sisa tanaman padi bisa diambil warga untuk pakan ternak,” jelasnya kepada Solopos.com di lokasi, Jumat.
Kebetulan, Rubiyatun, merupakan salah satu warga yang memanfaatkan sisa tanaman tersebut. Menurutnya, selain warga Bayat dan sekitarnya, ada pula warga dari Gunungkidul yang mencari pakan hingga ke Cawas.

1 November 2013 Posted by | Pertanian, Plosowangi | , , , , | Tinggalkan komentar

Banjir Masih Intai Kawasan Pasar Masaran Cawas

Banjir Cawas KlatenSejumlah kendaraan melintasi Jl Raya Masaran, Cawas, sesaat setelah hujan reda. Renovasi trotoar di kawasan Pasar Masaran, Cawas tersebut dinilai tidak memberikan andil dalam meredam air saat terjadi hujan. (Shoqib A/JIBI/Solopos)

Solopos.com, KLATEN — Sejumlah warga mengeluhkan proyek renovasi trotoar yang ada di sekitar Jl Raya Masaran, Cawas. Pasalnya, pengerjaan trotoar dinilai belum mampu meredam terjadinya banjir di sekitar Pasar Masaran, Cawas tersebut.

Salah satu warga Cawas, Narto, 70, mengatakan jalan di sekitar tikungan Pasar Masaran, Cawas masih terendam air saat terjadi hujan beberapa waktu lalu. “Kemarin hujan tidak terlalu deras, tapi jalan di sekitar Pasar Masaran, Cawas masih banjir,” ungkapnya saat ditemui Solopos.com, Kamis (31/10/2013).

Lebih lanjut, dia mengatakan banjir yang merendam sebagian ruas Jl Raya Masaran, Cawas itu sangat menganggu aktivitas warga. “Sebelum direnovasi, seharusnya selokan yang ada di bawah trotoar dibersihkan, sehingga air hujan bisa masuk dengan lancar,” paparnya.

Selain itu, sambungnya, saluran pembuangan air yang ada di sisi trotoar seharusnya juga diperbanyak. Dengan penambahan itu, air bisa segera masuk ke dalam bak kontrol air yang ada di bawah trotoar.

Salah satu warga Cawas yang lain, Surkamto, 52, mengatakan banjir biasa menggenangi ruas jalan yang ada di sebelah utara Pasar Masaran, Cawas. “Seharusnya, gorong-gorong yang ada di bawah trotoar dibersihkan dahulu, jadi biar aliran airnya lancar. Kemarin hujan saja airnya menggenangi sampai setinggi lutut,” paparnya kepada Espos, Kamis.

Surkamto membenarkan hujan yang terjadi beberapa hari terakhir membuat jalan tersebut tergenang. Dia khawatir saat musim penghujan tiba kawasan tersebut akan kembali banjir. “Biasanya, saat musim penghujan tiba jalan yang ada di sekitar Pasar Masaran menjadi tempat muntahan air dari Kali Dengkeng,” ungkapnya.

Sementara, di sepanjang proyek tersebut tidak ada papan informasi pengerjaan trotoar. Kepala tukang, Haryono, mengatakan trotoar yang direnovasi adalah sepanjang 325 meter. “Nantinya, akan tetap ada saluran pembuangan air sebanyak 80 buah. Saat ini baru dibuat sebagian,” katanya kepada Espos, Kamis.

Protes renovasi trotoar tidak hanya terjadi di Cawas. Di Delanggu, warga memprotes renovasi trotoar karena rekanan tidak memberikan akses masuk ke rumah. “Kok di depan toko modern dikasih akses jalan plorotan, tapi untuk warga tidak dikasih,” papar salah satu warga Sidodadi, Delanggu, Bambang,  kepada wartawan, Selasa (29/10).

Akibat minimnya akses jalan tersebut, warga harus memutar lebih jauh agar kendaraannya bisa masuk ke dalam rumah. “Kami sebenarnya sudah usul ke pelaksana proyek renovasi trotoar, tapi tidak ditanggapi,” ungkapnya.

Untuk sementara warga membuat akses jalan masuk dengan menumpuk bebatuan supaya kendaraan bisa melewati trotoar dan masuk ke dalam rumah.

Anggota Komisi II DPRD Klaten, Sunarto, saat melakukan sidak di lokasi akan menyampaikan keluhan itu ke rekanan dan pemerintah. Dalam sidak kemarin, pihaknya menilai renovasi trotoar sepanjang 325 meter itu berjalan lambat. Bahkan, pengerjaan renovasi terlihat terburu-buru dan mengabaikan saluran pembuangan air.

1 November 2013 Posted by | Bencana, Cawas | , | Tinggalkan komentar