Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

"Mari kita jalin rasa kekeluargaan diantara kita"

Pedagang Pasar Cawas Akan Kenakan Seragam

CAWAS-Bupati Klaten, Sunarna, berkeinginan agar para pedagang Pasar Cawas, mengenakan pakaian seragam khusus.

Penggunaan seragam tersebut dinilai bupati, dapat mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti tindak pencurian ataupun penjambretan.

Menurutnya, dengan pemakaian seragam tersebut akan lebih mudah dibedakan antara pedagang dan pembeli. Sehingga hal itu mampu mengurangi resiko pencurian barang dagangan milik pedagang.

“Nanti akan ketahuan jika ada orang yang berani mencuri ke dalam kios, karena orang itu pasti tidak memakai seragam,” ujar  Sunarna,  saat sidak proses revitalisasi Pasar Cawas, baru-baru ini.

Selain untuk mengurangi resiko kejahatan, menurut Sunarna, penggunaan pakaian seragam tersebut diharapkan mampu menarik para pelanggan untuk berbelanja ke Pasar Cawas.

“Pasar sudah dibangun dengan baik, pedagangnya juga harus mengikuti dengan menggunakan pakaian yang baik, itu demi kebaikan mereka.”

Sementara itu Kapolsek Cawas, AKP Frans Minarso, menyambut baik wacana penggunaan pakaian seragam bagi pedagang tersebut. Menurutnya, dengan pakaian seragam tersebut, para pedagang lebih mudah diawasi. Selain itu tindak kejahatan dapat diminimalisir di pasar tersebut.

“Yang jelas lebih enak ketika petugas berpatroli,  karena ada perbedaan antara pedagang dan pembeli,” kata AKP Frans Minarso.

Iklan

31 Oktober 2012 Posted by | Ekonomi | | Tinggalkan komentar

Tak Ada Normalisasi Sungai Dengkeng, Puluhan Desa Terancam Banjir

KLATEN — Puluhan desa di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Dengkeng terancam banjir seiring datangnya musim hujan kali ini. Selama setahun tidak ada program normalisasi sungai berupa pengerukan sedimentasi di anak Sungai Bengawan Solo tersebut.

 Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Klaten, Harjaka, mengatakan normalisasi Sungai Dengkeng menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS). Namun, selama 2012 ini, BBWSBS tidak menggulirkan program normalisasi Sungai Dengkeng. “Tahun ini, normalisasi difokuskan di anak Sungai Dengkeng seperti Kali Ujung,” ujar Harjaka kepada Espos, Minggu (21/10).
 Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, puluhan desa yang berada di DAS Dengkeng terancam banjir seiring datangnya musim penghujan kali ini. Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Bencana BPBD Klaten, Joko Roekminto, mengatakan puluhan desa tersebut tersebar di enam kecamatan yakni Prambanan, Gantiwarno, Wedi, Bayat, Cawas dan Karangdowo. Puluhan desa tersebut selama ini kerap menjadi langganan banjir luapan dari Sungai Dengkeng. “Karena tidak ada upaya normalisasi selama setahun, diperkirakan sedimentasi sudah meninggi. Hal itu bisa memicu tanggul jebol,” papar Joko.
 Joko meminta warga di sepanjang DAS Dengkeng waspada terhadap potensi banjir tersebut. Dia memperkirakan intensitas hujan meninggi pada Desember hingga Januari mendatang. Jika intensitas hujan meninggi, pihaknya akan mengusulkan Bupati Klaten mengeluarkan SE tentang Siaga Darurat Banjir. “Sementara ini intensitas hujan belum tinggi. Kalau memang mendesak, nanti kita bisa mengusulkan terbitnya SE secepatnya,” papar Joko.
 Sementara itu, Kepala Desa Brangkal, Kecamatan Wedi, Sriyanto, mengatakan puluhan hektare lahan pertanian dan permukiman warga di beberapa dukuh tergenang banjir pada 2010 dan 2011. Banjir tersebut berasal dari luapan Kali Ujung yang menjadi anak Sungai Dengkeng. “Saat itu tanggul sungai jebol karena tingginya sedimentasi Kali Ujung. Saat ini normalisasi Kali Ujung masih berlangsung. Setelah dinormalisasi, kami berharap potensi banjir bisa ditanggulangi,” harap Sriyanto.

25 Oktober 2012 Posted by | Bencana | | Tinggalkan komentar

Pukul Siswa, Guru SMPN 2 Cawas Digeruduk Warga

Klaten – Puluhan warga asal Dukuh Gombang Alas, Desa Gombang, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Kamis (11/10), menggeruduk SMPN 2 Cawas. Mereka memprotes kasus pemukulan yang dilakukan Sumhaji, guru setempat terhadap siswanya, Riyanto (14) warga Gombang.

“Kami sebagai pihak keluarga korban minta oknum guru itu (Sumhaji) untuk bertanggungjawab. Sebab, atas pemukulan itu kini Riyanto masih shock,” teriak Sri Mulyono, salah satu warga yang tidak terima.

Aksi ini mereda setelah keluarga korban melakukan dialog dan mediasi dengan pihak sekolah, Pemerintah Desa Gombang dan aparat Polsek Cawas. Dalam mediasi itu dipimpin langsung Kapolsek Cawas, AKP Frans Minarso.

Kepala SMPN 2 Cawas, C Anjar Nawangsih melalui Wakil Kepala, Sunarno, membenarkan atas prilaku kekerasan yang dilakukan oleh salah satu guru sekolahnya.

“Kami tadi sudah melakukan dialog dan mediasi dengan ibu kandung Riyanto, Ny Sumiyati. Dalam mediasi itu disepakati diselesaikan secara kekeluargaan dengan menandatangani surat perjanjian,” jelas Sunarno.

Sunarno mengatakan, dalam surat perjanjian itu berisi bahwa Sumhaji siap untuk tidak mengulangi perbuatannya. Termasuk siap membiayai kesembuhan Riyanto yang mengalami sakit dibagian telinga dan mata akibat dipukul.

“Surat pernyataan ini ditandatangani oleh Kepala SMPN 2 Cawas, C Anjar Nawangsih, Sumhaji, Riyanto dan Kepala Desa Gombang, Timbul Cahyono,” jelas Sunarno.

Sebelumnya, kasus pemukulan itu terjadi pada 26 September 2012. Saat itu Sumhaji yang sedang mengisi mata pelajaran IPA di kelas IX jengkel terhadap Riyanto yang ramai di dalam kelas.

Berulang kali Sumhaji menegurnya, namun tidak digubris oleh Riyanto. Hal itu membuat Sumhaji kesal yang langsung mendatangi Riyanto dan memukulnya. Akibat pemukulan itu Riyanto menderita sakit di bagian telinga dan mata.

13 Oktober 2012 Posted by | Gombang | | Tinggalkan komentar