Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

"Mari kita jalin rasa kekeluargaan diantara kita"

Usai Muntaber, Warga Cawas Diserang Penyakit Gatal-gatal

Indratno Eprilianto – Timlo.net

Klaten – Kegelisahan kembali menyelimuti warga Dukuh Brungkah, Desa Pakisan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Setelah dilanda muntaber, kini mereka dipusingkan dengan penyakit gatal-gatal.

Sedikitnya ada sejumlah 9 warga saat ini mulai menderita penyakit gatal-gatal setelah menggunakan air sumur yang sudah diberi kaporit sepekan terakhir.

Joyo Sudarmo (75), warga setempat mengaku mulai menghentikan pemakaian kaporit untuk sumurnya setelah mengalami rasa gatal-gatal diseluruh tubuhnya usai mandi.

“Lima hari lalu, tiba-tiba saja kulit tubuh saya terasa gatal-gatal setelah mandi. Kemudian saya langsung memeriksakan ke puskesmas. Mungkin saja karena penggunaan kaporit selama ini,” ujarnya, Sabtu (28/5).

Joyo menerangkan, penggunaan kaporit di sumur-sumur warga guna mematikan bakteri E-Coli penyebab muntaber. Namun kali ini efek gatal-gatal setelah kaporit mulai dirasakan warga.

“Sekarang saya memilih mandi di sumur yang belum dikaporit. Karena setelah diberi kaporit air sumur akan keruh dengan warna kekuning-kuningan. Agar air sumur kembali jernih, dibutuhkan waktu tiga sampai empat hari,” terang Joyo.

Kadus III, Suryono mengakui penyakit muntaber yang menimpa warga Brungkah mulai berkurang. Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten juga sudah turun tangan dan memberikan pemaparan tentang pola hidup bersih. “Seluruh warga juga diberikan sabun antiseptik untuk menjaga kemungkinan timbulnya penyakit,” kata Suryono.

Meski demikian, Suryono mengakui dalam sepekan terakhir ada laporan warga yang mengalami gatal-gatal setelah menggunakan air sumur yang telah diberi kaporit. “Dengan penyakit gatal-gatal pada kulit, sebagian besar warga mulai menghentikan pemakaian kaporit,” paparnya.

Menurut Suryono, gatal-gatal yang menyerang warga akibat pemakaian kaporit tersebut langsung dilaporkan kepada pihak puskesmas setempat. Dari keterangan puskesmas, menurut Suryono, munculnya gatal-gatal  pada kulit diperkirakan reaksi kimia pada air. “Warga juga dianjurkan untuk mengurangi separuh dari kemasan kaporit ditaburkan pada sumur,” jelasnya.

Sementara itu, atas kejadian timbulnya gatal-gatal tersebut, warga setempat bersepakat untuk menghentikan pemakaian air sumur yang terlanjur diberi kaporit baik untuk mandi atau aktifitas mencuci.

Warga khawatir lantaran setelah menggunakan air untuk mandi maka keesokan harinya akan mengalami rasa gatal. Sebelumnya, warga setempat tidak berani untuk memanfaatkan air sumur sebagai air minum setelah diketahui puluhan warga terkena muntaber.

Dengan kasus muntaber, dari pihak Dinkes kemudian menyarankan kaporitasi pada sejumlah sumur yang diduga menjadi penyebab penyakit muntaber.

Iklan

29 Mei 2011 Posted by | Kesehatan, Pakisan | , | Tinggalkan komentar

Warga Brungkah krisis air bersih, PDAM siap drop air bersih

Klaten (Solopos.com)–Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Klaten mengaku siap menggelontorkan air bersih kepada warga Dukuh Brungkah, Desa Pakisan, Kecamatan Cawas.

Perusahaan pelat merah tersebut juga tengah melakukan survey guna
mempersiapkan pemasangan instalasi air bersih ke daerah yang selama
ini diserang penyakit Muntaber.

“Hari ini, tim kami langsung melakukan survey ke lokasi untuk persiapan pemasangan pipa air bersih,” kata Kepala PDAM Klaten, Ambar Muryati ketika ditemui Espos di lingkungan Setda Pemkab Klaten, Senin (9/5).

13 Mei 2011 Posted by | Bencana, Pakisan | , | Tinggalkan komentar

Delapan kecamatan di Klaten terendam banjir

Klaten (Solopos.com)–Kali Dengkeng untuk kali kesekian kembali merendam ratusan permukiman warga, Jumat-Sabtu (6-7/5). Banjir di Klaten kali bahkan terhitung paling parah pasalnya air meluas dan melumpuhkan aktivitas warga hingga di delapan kecamatan.

Informasi yang dihimpun Espos, delapan kecamatan yang terendam luapan air dari anak sungai Bengawan Solo tersebut ialah Kecamatan Cawas, Pedan, Trucuk, Gantiwarno, Bayat, Prambanan, Wedi, serta Juwiring. Banjir paling parah menerjang wilayah Kecamatan Cawas hingga
membuat pasar, sekolah, kantor pelayanan publik, seperti Puskesmas, kantor kecamatan, terminal serta jalan-jalan raya lumpuh total.

Air juga menggenangi perumahan serta persawahan penduduk. “Ini banjir paling parah. Warga kami menjerit semua,” kata Camat Cawas, Ir Priharsanto kepada Espos, Sabtu (7/5/2011).

(asa)

Foto dariSeputar Klaten:

Lapangan Barepan jadi kolam

Bendungan Tukuman, Plosowangi – Sungai Dengkeng


9 Mei 2011 Posted by | Bencana | , | Tinggalkan komentar