Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

"Mari kita jalin rasa kekeluargaan diantara kita"

Tanggul Dengkeng Terkikis, Puluhan Rumah Terancam Banjir

image

TANGGUL TERKIKIS: Tanggul Sungai Dengkeng di Desa Japanan, Kecamatan Cawas rontok, Senin (31/1) sehingga banjir bandang mengancam puluhan rumah warga. (SM CyberNews/ Achmad Hussain)

Klaten, CyberNews. Tanggul tanah Sungai Dengkeng di Desa Japanan, Kecamatan Cawas, Senin (31/1) rontok akibat dihantam banjir bandang sepekan terakhir. Ambrolnya tanggul yang mendekat ke permukiman mengancam sedikitnya 70 rumah warga di Dusun Turasan dan Sumberejo.

Warga Dusun Turasan Desa Japanan, Kecamatan Cawas, Sri Lestari mengatakan banjir bandang sepekan terakhir terus mengikis tanggul. Bahkan rumpun bambu yang melindungi permukiman warga sudah ada yang terseret.

”Kalau hujan deras dan air naik ke tanggul warga sudah siap-siap pindah,” jelasnya, Senin (31/1).

Menurutnya, arus Sungai Dengkeng yang merupakan hulu Sungai Bengawan Solo itu semakin hari semakin deras. Pasalnya alur sungai di dekat desanya merupakan gabungan dua alur sungai. Yakni Sungai Dengkeng dan Sungai Jaran. Bertemunya dua alur sungai membuat arus sangat deras dan terus meninggi mendekati permukiman penduduk.

Bahkan sedikitnya sudah ada beberapa titik tanggul yang ambrol persis di belakang rumah warga. Saat ini warga semakin khawatir sebab hujan masih terus turun. Apabila hujan turun malam hari warga selalu dihinggapi rasa was-was. Tidak hanya itu, banjir dua hari lalu bahkan air hampir masuk ke pekarangan sebab rumpun bambu penahan sudah hanyut. Di dusunnya ada sekitar 60 kepala  keluarga yang bermukim di tepi sungai.

Tembok Rontok

Kritisnya tanggul itu menurut warg Dusun Sumberejo, Desa Japanan, Mardi Suwarno sangat mengkhawatirkan. Sebab air banjir tidak hanya mengikis tanggul di sisi barat tetapi juga menghancurkan tanggul di sisi timur. Tanggul di sisi timur yang merupakan wilayah Desa Tawang, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo sudah rontok.

”Padahal tanggulnya berupa tembok tetapi hancur juga,” jelasnya.

Tanggul tembok di wilayah Kabupaten Sukoharjo itu panjangnya sekitar 300 meter. Temboknya terguling ke tengah sungai. Akibatnya arus deras yang menghantam reruntuhan tembok melimpah ke sisi barat yang merupakan permukiman warga Desa Japanan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten.

Kondisi tanggul yang rusak berat itu menurutnya sudah dilaporkan ke desa dan kecamatan. Bahkan beberapa anggota DPRD sudah mengecek ke lokasi. Namun karena merupakan alur Sungai Bengawan Solo, sampai kemarin belum ada perbaikan. Perbaikan tanggul dengan bronjong batu ata zak pasir sangat diharapkan warga sebab jika tidak air bisa menghantam rumah warga atau menyeret fondasi bangunan.

Sekretaris Komisi III DPRD Klaten, Edi Sasongko mengaku sudah mengecek lokasi. Panjang tanggul yang ambrol di wilayah Klaten sekitar 300 meter. ”Kami sudah meminta Pemkab menangani secepatnya sebab jika tidak risikonya besar,” ungkapnya.

Untuk sementara warga membuat pagar patok bambu agar arus air tidak terlalu besar menghantam tanggul. Namun langkah itu tidak akan efektif jika arus banjir ke Bengawan Solo semakin besar.

( Achmad Hussein / CN27 / JBSM ) Suara Merdeka

Iklan

26 Februari 2011 Posted by | Bencana, Japanan | , , , | Tinggalkan komentar

Kades Urunan Tambal Jalan

MASALAH kerusakan jalan sering muncul, di Klaten, terutama pada saat musim hujan. Di daerah ini terdapat 75 kilometer ruas jalan yang pemeliharaannya berada di kewenangan Pemprov . Satu ruas jalan berada di wilayah barat, menghubungkan Kabupaten Klaten dengan Kabupaten Boyolali. Ruas jalan sepanjang sekitar 40 kilometer itu melintasi Kecamatan Klaten Utara, Ngawen, Jatinom dan Kecamatan Tulung sebelum tersambung dengan Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.

Di ruas timur, terdapat ruas sepanjang sekitar 35 kilometer di Jl Raya Cawas-Gunung Kidul. Ruas jalan tersebut mencakup Kecamatan Pedan dan Cawas, berakhir di persimpangan Jenthir menuju ke Kabupaten Sukoharjo dan Gunung Kidul, DI Yogyakarta.
Berbeda dari ruas jalan Yogyakarta – Solo, yang setiap ada satu lubang selalu cepat diperbaiki.  Dua ruas jalan itu rentan rusak setiap waktu.

Kerusakan jalan di dua ruas itu yang paling klasik terjadi di ruas jalan Klaten-Boyolali. Setiap usai direhab, kerusakan kembali terjadi. Bertahun-tahun, mulai Kecamatan Jatinom sampai Tulung, aspal di jalur tersebut rentan mengelupas dan berubah menjadi jebakan maut yang siap memangsa korban. Puluhan bahkan mungkin ratusan lubang terbentuk setahun terakhir. Apa sebab? Faktor musim sebenarnya tidak terlalu berpengaruh. ”Yang paling banyak karena dilalui kendaraan galian C. Sebab setiap hari ada ratusan truk,” ungkap Sriyono, warga Tulung.

Menurut dia, belasan bahkan mungkin puluhan korban sudah jatuh sebab mayoritas jalur itu minim penerangan.
Makin Parah Saat kerusakan di ruas barat belum terurai, kerusakan menjalar ke jalur perbatasan sisi timur. Ruas jalan sejak Desa Gombang sampai Jentir, Kecamatan Cawas semakin hari semakin parah. Air selalu menggenang saat hujan datang ditimpuki banyaknya truk pasir ke arah Kabupaten Sukoharjo dan Wonogiri yang melintas menyebabkan jalan amburadul. Lubang dengan kedalaman lima sentimeter sampai 15 sentimeter menjadi pemandangan biasa.

Warga yang jengkel pun nekat. Terakhir Rabu, (16/2) warga menanam pisang di depan rumah anggota DPRD Jateng di Desa Gombang, Kecamatan Cawas. Bukan tanpa alasan, sebab sudah menyebabkan korban tewas. Sehari setelah itu, delapan kepala desa yang dilintasi jalur itu ramai-ramai menambal lubang jalan sebagai bentuk keprihatinan. Kades Barepan, Kecamatan Cawas, Sunarto mengaku jengkel dengan kerusakan jalan itu.

Menurut Sunarto, sebagai bentuk kepedulian, karena Pemrpov tidak kunjung merehab, kades-kades di sepanjang jalur itu berswadaya membeli pasir dan tanah uruk untuk menambal lubang jalan. Kerusakan jalur itu, menurutnya, bukan tidak dilaporkan.

Kerusakan itu, menurut Sekretaris Komisi III DPRD  Klaten, Edi Sasongko sedikit banyak sudah mempengaruhi ekonomi warga.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemkab Klaten, Ir Tajudin Akbar, mengatakan Pemkab tidak memiliki kewenangan menangani dua ruas tersebut. Kewenangan Pemkab hanya sebatas melaporkan kerusakan.  (Achmad Hussain-24) Suara Merdeka

26 Februari 2011 Posted by | Barepan, Cawas, Gombang, Umum | , | Tinggalkan komentar

Ketika alat tenun lurik tak lagi bergoyang…

Oleh : Aries Susanto

Alat tenun itu tak lagi bergoyang. Debu dan sarang laba-laba membungkusnya seperti berkisah tentang kesepian. Dua bulan terakhir ini, alat tenun bukan mesin (ATBM) itu memang tak lagi bersuara riuh.

Di sana, yang tersisa hanyalah kenangan masa silam tentang kejayaan kain lurik ATBM. “Sekarang, sudah kalah dengan lurik buatan mesin. Kami tak bisa berbuat apa-apa,” kata Abdul Hamid pasrah.

Pengusaha lurik asal Dukuh Klebengan, Desa Juwiran, Kecamatan Juwiring, Klaten itu sebelumnya memiliki 40-an tenaga kerja penenun kain lurik ATBM. Ketika kain lurik mencapai puncak keemasannya, permintaan kain membanjir hingga membuat para pekerjanya harus memeras keringat siang malam. “Sampai-sampai pemesan harus antre lama. Padahal, kami memproduksi kain lurik 400-an meter dalam sehari. Tapi tetap saja kewalahan,” kenangnya di kediamannya, Rabu (23/2).

Menjelang tutup tahun 2010, langit kelabu seakan menggantung di tempat usaha Hamid. Lurik dari Kabupaten Jepara, Kudus, serta Pekalongan tiba-tiba membanjir ke Kabupaten Klaten. Pria yang menekuni usaha lurik sejak tahun 1957 silam itu dibikin terheran-heran setengah tak percaya. “Jumlahnya sangat banyak. Di mana-mana orang menawarkan kain lurik dengan harga lebih murah,” jelasnya.

Saat itulah, Hamid merasakan betul goncangan hebat yang menimpa usahanya. Permintaan luriknya anjlok drastis. Harga benang melonjak hingga nyaris 300%. “Pokoknya harga benang gila-gilaan,” katanya.

Meski berat, Hamid pun terpaksa mengambil keputusan pahit. Puluhan tenaga kerjanya dirumahkan satu demi satu. Untuk menjaga agar alat tenunnya tetap bisa bergoyang, kini dia hanya mempekerjakan sepuluh orang. “Itu pun, kalau kerja sudah tak penuh lagi. Permintaan sepi,” tambahnya.

Hamid tak sendirian. Ratusan bahkan ribuan pengrajin lurik di Kecamatan Cawas, Pedan, Delanggu, serta yang tersebar di sejumlah daerah di Klaten juga bernasib sama. Mereka merasakan betul dampak dari kehebatan teknologi yang mampu menciptakan beribu-ribu meter kain lurik-lurik dalam sehari dengan harga sangat murah. “Jika terus-terusan seperti ini, pengrajin lurik di Klaten mungkin tinggal kenangan,” keluh Miss Shobach, pengusaha lurik dari Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas.

25 Februari 2011 Posted by | Ekonomi, Tlingsing | , | 1 Komentar

RSI Cawas resmikan gedung baru

Klaten (Espos)--Rumah Sakit Khusus Bedah Islam (RSKBI) Cawas meresmikan gedung rawat inap baru, Sabtu (19/2) di RS setempat.

Acara peresmian dipimpin langsung oleh Camat Cawas, Ir Pri Harsanto dan dihadiri segenap karyawan RSKBI Cawas. Selain meresmikan gedung baru, acara juga diisi dengan pengajian untuk memperingati Maulid Nabi dengan menghadirkan pembicara ustaz Muhajir dari Kota Susu, Boyolali.

Humas RSI Klaten, Agus Susanto menjelaskan, dengan diresmikan gedung baru RSKBI, diharapkan pelayanan RS tersebut kepada masyarakat menjadi lebih optimal.

asa

21 Februari 2011 Posted by | Kesehatan, Umum | , | 1 Komentar

Serangan wereng capai 299 Ha

Klaten (Espos)--Serangan hama wereng di lahan pertanian Kecamatan Cawas, Klaten hingga saat ini telah mencapai 299 Ha dari 2.318 Ha lahan pertanian se-Kecamatan Cawas. Jumlah tersebut tersebar di tujuh desa, yakni Tirtomarto, Balak, Japanan, Bogor, Tlingsing, Pogung, serta Pakisan.

Camat Cawas, Priharsanto menjelaskan, para petani di Kecamatan Cawas telah mencoba sejumlah langkah pengendalian hama wereng dengan baik. Namun, berbagai upaya yang dilakukan para petani tetap saja gagal. “Mulai semprotan pestisida bantuan pemerintah, hingga cara mandiri dengan solar. Namun, tetap saja tak mempan,” katanya kepada Espos, Rabu (9/2).

Menurutnya, para petani perlu menempuh upaya lain dalam mengendalikan hama wereng, yakni dengan pola tanam yang diberakan. Kedua ialah mengatur sistem drainase yang baik agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. “Pola tanam yang diberakan sekali dalam dua kali panen, akan mampu memutus siklus hama. Pengaturan drainase pengairan juga akan membuat tanaman tumbuh dengan baik karena genagan air bisa membuat tanaman rusak,” paparnya.

asa

10 Februari 2011 Posted by | Balak, Bogor, Japanan, Pakisan, Pogung, Tirtomarto, Tlingsing | , | 2 Komentar