Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

"Mari kita jalin rasa kekeluargaan diantara kita"

339 Hektare sawah terancam kekeringan

Cawas (Espos) Seluas 339 hektare (ha) tanaman padi di Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten terancam kekeringan menyusul tidak adanya curah hujan di kawasan tersebut. Padi yang ada di wilayah tersebut rata-rata berusia setengah bulan.

Sementara itu, Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Desa Burikan dan Karangasem, Slamet Mulyono mengatakan, pihaknya sudah mengimbau petani agar menunda masa tanam hingga akhir November sesuai petunjuk Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG).
Kendati demikian, para petani tak mengindahkan imbauan itu dan tetap menanam benih padi di lahan mereka. Dikatakannya, para petani memilih mempercepat masa tanamnya lantaran pada akhir Oktober lalu hujan mengguyur selama tiga hari berturut-turut. ”BMG memprediksi hujan yang turun akhir Oktober hingga awal November belum bisa jadi pedoman dimulainya musim cocok tanam,” tandas Slamet saat ditemui Espos di sela-sela kesibukannya, Jumat (6/11), di kantor kecamatan setempat.
Terkait total luasan sawah yang terancam mati kekeringan, Koordinator Petugas PPL Kecamatan Cawas, Ir Jono membeberkan luasannya mencapai 339 ha. Lahan pertanian itu berada di Desa Burikan sebanyak 98 ha, Desa Karangasem sebanyak 150 ha, Nanggulan seluas 40 ha, dan Kedungampel seluas 45 ha. Dikatakannya, sebanyak 339 ha lahan pertanian itu tergolong sawah tadah hujan alias hanya mengandalkan curah hujan sebagai sumber utama pengairan. Padahal, dalam beberapa hari terakhir hujan tak kunjung turun.
”Pertumbuhan tanaman padi sangat bergantung dengan adanya curah hujan. Jadi, jika hujan tidak turun ya tanaman itu terancam mati kekeringan,” tutur Jono.
Kebingungan
Slamet menambahkan, saat ini para petani tengah kebingungan untuk mengairi lahan mereka. Diceritakannya, lahan pertanian di empat desa tersebut memang tidak terjangkau aliran irigasi. Di samping itu, kondisi wilayah yang bercadas membuat para petani sulit mencari sumber air. Sebenarnya para petani sudah berusaha menggali sebuah sumur di kawasan itu, akan tetapi mereka tidak berhasil menemukan sumber air dalam sumur tersebut. Praktis, untuk mengairi lahan pertanian, para petani hanya mengandalkan curah hujan. ”Yang bisa para petani lakukan hanyalah berdoa agar hujan bisa segera turun,” papar Slamet. – Oleh : Muhammad Khodiq Duhri

7 November 2009 - Posted by | Burikan, Karangasem, Kedungampel, Nanggulan |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: