Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

"Mari kita jalin rasa kekeluargaan diantara kita"

Peta politik legislatif Klaten semakin berwarna

Klaten (Espos)—-Peta politik legislatif di wilayah Klaten semakin berwarna. Bila lembaga legislatif tersebut pada periode 2004-2009 diwarnai oleh delapan partai politik (Parpol), kini jumlahnya bertambah menjadi 10 Parpol. Berdasarkan pleno perhitungan suara yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, Sabtu (18/4), kesepuluh Parpol tersebut terdiri dari tujuh pemain lama dan tiga pemain baru. Parpol incumbent yang pada periode sebelumnya berkuasa dan kini tergusur adalah Partai Merdeka. 10 Parpol yang bakal menghiasi kursi legislatif periode 2009-2014 adalah Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Matahari Bangsa (PMB). “Pada hari ini, hasil pleno perhitungan suara disepakati. Setelah dilakukan secara marathon sejak Jumat (17/4),” kata Ketua KPU Klaten Ngatmin Sumarto P kepada wartawan usai menyelesaikan pleno tersebut di KPU setempat. Dari perhitungan tersebut, PDI Perjuangan tetap mendominasi perolehan kursi parlemen dengan 15 kursi. Kendati demikian perolehan tersebut menurun dari tahun sebelumnya. Perolehan terbesar kursi berasal dari daerah pemilihan (Dapil) V meliputi Bayat, Cawas, Trucuk, Pedan, Karangdowo, dengan empat kursi. “Banyak kader kami yang masih kesulitan melakukan pencontrengan,” kata DPC Ketua PDI Perjuangan Klaten Hartini. Sementara Partai Golkar mendapatkan respons positif masyarakat dengan tambahan tiga kursi dari periode sebelumnya menjadi 10 kursi pada periode kali ini. Pengurangan kursi justru terjadi pada Parpol berbasis agama, seperti PKB. Pada periode sebelumnya, PKB mampu meraup empat kursi, namun kali ini, mereka hanya bisa mendapatkan satu kursi. Oleh: Heriyono Adi Anggoro

Iklan

25 April 2009 Posted by | Klaten, Politik | , | Tinggalkan komentar

Pondasi jembatan Walikukun longsor, permukiman warga terancam

Jembatan Walikukun Balak, Cawas-klatenKlaten (Espos)—–Jalur alternatif Solo-Kabupaten Klaten yang melalui Jembatan Walikukun di Desa Balak, Cawas, Klaten terancam putus menyusul longsornya pondasi dan sayap Jembatan tersebut, Minggu (29/3) lalu. Sejumlah kios Pasar Balak yang berada di dekat Sungai Dengkeng dan Jembatan Walikukun terancam hanyut terbawa arus sungai akibat longsornya tanggul sungai. Pantauan Espos di lapangan, Kamis (2/4) menyebutkan, air sungai telah menggerus pondasi kios-kios dari bangunan permanan tersebut. Para pengguna kios yang selama ini juga tinggal di bangunan tersebut memilih mengungsi atau tidak lagi mengoperasikan kios mereka. Kepala Desa Balak, Sukarjo ditemui Espos mengatakan, penggerusan terus terjadi menyusul debit air sungai yang asih tinggi dan tak jarang terjadi banjir. Diperkirakan, bila terjadi banjir dalam skala besar Jembatan Walikukun dan beberapa kios pasar bakal runtuh, terbawa banjir. “Kondisinya sudah sangat parah, selain pondasi dan sayap jembatan patah, longsor tanggul Sungai Dengkeng telah menganyam keselamatan warga. Kondisi jembatan yang rusak juga arus diperhatikan. Sebab jembatan yang saat ini miring tersebut masih digunakan untuk lalu-lintas kendaraan motor dan mobil pribadi,” ujarnya. Sejumlah warga termasuk para pelajar juga melalui Jembatan Walikukun saat bepergian. Sukarjo menuturkan, guna memperlambat proses penggerusan bibir sungai, warga telah memasang batang-batang bambu. Oleh: Kurniawan

6 April 2009 Posted by | Balak, Cawas | , | 1 Komentar

Korban bencana angin tak kunjung dapat bantuan

Klaten (Espos)–Ratusan korban bencana alam angin kencang di wilayah Kecamatan Bayat dan Cawas hingga Senin (30/3), belum juga menerima bantuan materiil dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten.

Padahal belasan korban diantaranya mengalami kerugian cukup banyak akibat ambruknya rumah atau tempat tinggal mereka. Camat Bayat, Agus Sukoco SH MM mengatakan, data korban bencana angin kencang dan angka kerugiannya telah dilaporkan kepada Pemkab Klaten.

“Ya, sampai saat ini memang belum ada bantuan dana untuk para korban. Selain itu juga belum ada kepastian apakah para korban akan mendapat bantuan atau tidak. Tapi biasanya ada bantuan,” ujarnya kepada Espos, Senin siang. Dia berharap bantuan diberikan kepada para korban, tidak hanya untuk korban yang rumahnya ambruk, melainkan juga yang rumahnya rusak.

Diuraikan Agus, jumlah rumah rusak di Desa Tegalrejo akibat angin kencang tercatat 29 unit, di Desa Gununggajah 20 unit, Jambakan 20 unit, serta Talang 38 unit. Ditambah lagi aset warga daerah bencana berupa ratusan pohon jati berumur nanggung tumbang sehingga tidak bisa dimanfaatkan.

“Total kerugian materiil akibat bencana ini mencapai Rp 500 juta, termasuk infrastruktur umum seperti SDN Talang,” imbuhnya.

Senada, Camat Cawas, Sutrisno menyatakan telah jauh hari melaporkan data dampak bencana angin kencang kepada Pemkab Klaten. Namun diakuinya sejauh ini belum ada sinyalemen bantuan dana bagi para korban akan segera turun. Akibatnya korban bencana memilih berinisiatif sendiri untuk segera membangun kembali rumah mereka secara swadaya dengan bantuan para tetangga.

“Sebagian besar korban sudah berbenah memperbaiki rumah mereka secara gotong royong. Sejauh ini baru bantuan logistik seperti gula yang sudah diberikan,” terang dia. Jumlah rumah rusak akibat angin sedikitnya tercatat 100-an unit, satu unit roboh, serta satu tower komunikasi di Desa Cawas roboh.

Oleh: Kurniawan

2 April 2009 Posted by | Cawas | | Tinggalkan komentar