Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

"Mari kita jalin rasa kekeluargaan diantara kita"

Koperasi Ahmad Dahlan Cawas gelar RAT

Klaten (Solopos.com)–Koperasi Serba Usaha (KSU) Baitul Mall wa Tamwil (BMT) Ahmad Dahlan Kecamatan Cawas, Klaten menggelar rapat anggota tahunan (RAT) di Sanggar Kegiatan Bersama (SKB) Cawas.

Dalam acara yang digelar, Sabtu (5/3/2011) tersebut terungkap bahwa aset KSU BMT Ahmad Dahlan hingga kini mencapai Rp 16,5 miliar dan memiliki sisa hasil usaha (SHU) mencapai Rp 323 juta. “Saat ini KSU BMT Ahmad Dahlan sudah bisa membangun gedung baru senilai Rp 649 juta lebih,” kata Camat Cawas Ir Pri Harsanto kepada Espos, Selasa (8/3/2011).

Selain mengemban profit oriented, kata dia, KSU Ahmad Dahlan juga membawa misi social oriented. Salah satunya dengan menggelar kegiatan sosial kemanusiaan seperti beasiswa, santunan kepada fakir miskin, peminjaman modal kerja bagi warga kurang mampu serta program peduli Merapi. “RAT ini digelar untuk mempertanggung jawabkan kinerja koperasi dalam rangka memenuhi akuntabilitas dan transparansi kepada 318 anggotanya,” lanjutnya.

(asa)

12 Maret 2011 Posted by | Ekonomi | , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Kades Urunan Tambal Jalan

MASALAH kerusakan jalan sering muncul, di Klaten, terutama pada saat musim hujan. Di daerah ini terdapat 75 kilometer ruas jalan yang pemeliharaannya berada di kewenangan Pemprov . Satu ruas jalan berada di wilayah barat, menghubungkan Kabupaten Klaten dengan Kabupaten Boyolali. Ruas jalan sepanjang sekitar 40 kilometer itu melintasi Kecamatan Klaten Utara, Ngawen, Jatinom dan Kecamatan Tulung sebelum tersambung dengan Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.

Di ruas timur, terdapat ruas sepanjang sekitar 35 kilometer di Jl Raya Cawas-Gunung Kidul. Ruas jalan tersebut mencakup Kecamatan Pedan dan Cawas, berakhir di persimpangan Jenthir menuju ke Kabupaten Sukoharjo dan Gunung Kidul, DI Yogyakarta.
Berbeda dari ruas jalan Yogyakarta – Solo, yang setiap ada satu lubang selalu cepat diperbaiki.  Dua ruas jalan itu rentan rusak setiap waktu.

Kerusakan jalan di dua ruas itu yang paling klasik terjadi di ruas jalan Klaten-Boyolali. Setiap usai direhab, kerusakan kembali terjadi. Bertahun-tahun, mulai Kecamatan Jatinom sampai Tulung, aspal di jalur tersebut rentan mengelupas dan berubah menjadi jebakan maut yang siap memangsa korban. Puluhan bahkan mungkin ratusan lubang terbentuk setahun terakhir. Apa sebab? Faktor musim sebenarnya tidak terlalu berpengaruh. ”Yang paling banyak karena dilalui kendaraan galian C. Sebab setiap hari ada ratusan truk,” ungkap Sriyono, warga Tulung.

Menurut dia, belasan bahkan mungkin puluhan korban sudah jatuh sebab mayoritas jalur itu minim penerangan.
Makin Parah Saat kerusakan di ruas barat belum terurai, kerusakan menjalar ke jalur perbatasan sisi timur. Ruas jalan sejak Desa Gombang sampai Jentir, Kecamatan Cawas semakin hari semakin parah. Air selalu menggenang saat hujan datang ditimpuki banyaknya truk pasir ke arah Kabupaten Sukoharjo dan Wonogiri yang melintas menyebabkan jalan amburadul. Lubang dengan kedalaman lima sentimeter sampai 15 sentimeter menjadi pemandangan biasa.

Warga yang jengkel pun nekat. Terakhir Rabu, (16/2) warga menanam pisang di depan rumah anggota DPRD Jateng di Desa Gombang, Kecamatan Cawas. Bukan tanpa alasan, sebab sudah menyebabkan korban tewas. Sehari setelah itu, delapan kepala desa yang dilintasi jalur itu ramai-ramai menambal lubang jalan sebagai bentuk keprihatinan. Kades Barepan, Kecamatan Cawas, Sunarto mengaku jengkel dengan kerusakan jalan itu.

Menurut Sunarto, sebagai bentuk kepedulian, karena Pemrpov tidak kunjung merehab, kades-kades di sepanjang jalur itu berswadaya membeli pasir dan tanah uruk untuk menambal lubang jalan. Kerusakan jalur itu, menurutnya, bukan tidak dilaporkan.

Kerusakan itu, menurut Sekretaris Komisi III DPRD  Klaten, Edi Sasongko sedikit banyak sudah mempengaruhi ekonomi warga.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemkab Klaten, Ir Tajudin Akbar, mengatakan Pemkab tidak memiliki kewenangan menangani dua ruas tersebut. Kewenangan Pemkab hanya sebatas melaporkan kerusakan.  (Achmad Hussain-24) Suara Merdeka

26 Februari 2011 Posted by | Barepan, Cawas, Gombang, Umum | , | Tinggalkan sebuah Komentar

RSI Cawas resmikan gedung baru

Klaten (Espos)--Rumah Sakit Khusus Bedah Islam (RSKBI) Cawas meresmikan gedung rawat inap baru, Sabtu (19/2) di RS setempat.

Acara peresmian dipimpin langsung oleh Camat Cawas, Ir Pri Harsanto dan dihadiri segenap karyawan RSKBI Cawas. Selain meresmikan gedung baru, acara juga diisi dengan pengajian untuk memperingati Maulid Nabi dengan menghadirkan pembicara ustaz Muhajir dari Kota Susu, Boyolali.

Humas RSI Klaten, Agus Susanto menjelaskan, dengan diresmikan gedung baru RSKBI, diharapkan pelayanan RS tersebut kepada masyarakat menjadi lebih optimal.

asa

21 Februari 2011 Posted by | Kesehatan, Umum | , | 1 Komentar

Serangan wereng capai 299 Ha

Klaten (Espos)--Serangan hama wereng di lahan pertanian Kecamatan Cawas, Klaten hingga saat ini telah mencapai 299 Ha dari 2.318 Ha lahan pertanian se-Kecamatan Cawas. Jumlah tersebut tersebar di tujuh desa, yakni Tirtomarto, Balak, Japanan, Bogor, Tlingsing, Pogung, serta Pakisan.

Camat Cawas, Priharsanto menjelaskan, para petani di Kecamatan Cawas telah mencoba sejumlah langkah pengendalian hama wereng dengan baik. Namun, berbagai upaya yang dilakukan para petani tetap saja gagal. “Mulai semprotan pestisida bantuan pemerintah, hingga cara mandiri dengan solar. Namun, tetap saja tak mempan,” katanya kepada Espos, Rabu (9/2).

Menurutnya, para petani perlu menempuh upaya lain dalam mengendalikan hama wereng, yakni dengan pola tanam yang diberakan. Kedua ialah mengatur sistem drainase yang baik agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. “Pola tanam yang diberakan sekali dalam dua kali panen, akan mampu memutus siklus hama. Pengaturan drainase pengairan juga akan membuat tanaman tumbuh dengan baik karena genagan air bisa membuat tanaman rusak,” paparnya.

asa

10 Februari 2011 Posted by | Balak, Bogor, Japanan, Pakisan, Pogung, Tirtomarto, Tlingsing | , | 2 Komentar

Gagal panen meluas, perangkat desa di Klaten gigit jari

Klaten (Espos) — Gagal panen yang menyerang Kecamatan Gan­ti­war­no, Kla­ten akibat hama wereng dan banjir meluas di Kecamatan Cawas. Kali ini bukan saja menimpa pertanian milik warga, namun para perangkat desa setempat juga ketiban sial.

“Perangkat desa pusing semua. Termasuk saya. Pertanian dua kali gagal panen,” tegas Kepala Desa Balak, Cawas, Klaten, Sutarjo kepada Espos, Selasa (7/2).

Lebih lanjut dia menjelaskan, jumlah pertanian warga yang mengalami gagal panen mencapai 80 hektare. Angka tersebut paling banyak terjadi di Desa Balak, Cawas, Klaten dengan jumlah petani sekitar 240 orang. Selain itu, Desa Japanan serta Desa Tirtomarto juga mengalami hal serupa. “Namun, jumlahnya kami tak tahu persis. Kami hanya dengar keluhan dari warga di sana,” terangnya.

Yang jelas, lanjutnya, gagal panen tersebut terlihat dari hasil panen yang mampu dibawa pulang petani tak lebih dari 20% per lahan. Penyebab utama gagalnya panen di wilayahnya, kata Sutarjo, selain serangan hama wereng juga karena rendaman banjir yang berulangkali menyerang wilayah mereka. “Banjir dan hujan ekstrem akhir-akhir ini membuat pertanian rusak,” terangnya.

Atas peristiwa tersebut, pihaknya telah melaporkan kepada Dinas Pertanian Klaten. “Kami sudah laporkan secara tertulis,” tambahnya.

Gagal panen di daerah tersebut, katanya, berdampak hebat pada kesejahteraan petani dan juga perangkat desa. Perangkat yang hanya mengandalkan sawah bengkok, katanya, saat ini sangat terpuruk. Sebab, kerapnya acara-acara hajatan serta pertemuan warga sangat menguras kantong mereka. “Padahal, sawah bengkok kami gagal panen terus,” paparnya.

Selain 80 hektare sawah yang gagal panen, lanjut Sutarjo, saat ini juga masih ada 40 hektare tanaman padi di Desa Balak yang terancam gagal panen. Hal itu terlihat dari kondisi tanaman yang kini mulai menguning kering.

Camat Cawas, Priharsanto ketika dikonfirmasi hal itu mengaku akan meninjau lokasi pertanian warga yang gagal panen tersebut.

Sebelumnya, gagal panen menyerang pertanian di Kecamatan Gantiwarno. Bahkan, empat Desa diantaranya dinyatakan puso total karena kerusakan akibat wereng mencapai di atas 90%. Sedangkan gagal panen yang kurang dari 90% mencapai 226 hektare. Em­pat de­sa yang puso total itu ialah De­sa Ja­bung, Mu­tih­an, To­wang­san, ser­ta Ce­po­ran yang jumlahnya men­ca­pai 26 hektare. asa

9 Februari 2011 Posted by | Balak, Bencana, Ekonomi, Japanan, Tirtomarto | , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.