Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

"Mari kita jalin rasa kekeluargaan diantara kita"

Kandungan E-Coli sumur Dukuh Brungkah masih tinggi

Klaten (Solopos.com)--Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten memastikan kandungan bakteri Coliform di sumur-sumur warga di Dukuh Brungkah, Desa Pakisan, Kecamatan Cawas masih tinggi.

Kepala Dinkes Klaten, Ronny Roekmito saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (5/7/2011), mengemukakan hasil uji petik yang dilakukan terhadap tiga sumur milik warga menunjukkan sebagian besar sumur-sumur warga masih memiliki kandungan bakteri Coliform cukup tinggi.

Lebih lanjut, Ronny menjelaskan, satu sumur memang sudah memenuhi standar kesehatan karena kandunganColiform kurang dari 50/100 ml air. Namun, dua sumur lain yang diteliti mengandung bakteri Coliform cukup tinggi yakni mencapai 150/100 ml air dan 2.400/100 ml air. “Jika warga ingin mengonsumsi air itu, warga harus merebus air hingga mendidih. Semua air dari sumur yang kandunganColiform-nya rendah dan tinggi tetap harus direbus sampai mendidih agar bakteri itu mati,” tegas Ronny.

Menurut Ronny, hasil uji petik itu selanjutkan akan disampaikan kepada warga dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Klaten. Pihaknya berharap, PDAM bersedia mengakomodasi kebutuhan air bersih di Dukuh Brungkah, Desa Pakisan, Cawas.

(mkd)

7 Juli 2011 Posted by | Kesehatan, Pakisan | , | Tinggalkan komentar

Dinkes Klaten akan uji ulang kandungan air di Brungkah

Klaten (Solopos.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten melalui petugas Puskesmas Cawas akan melakukan uji ulang kandungan air di sumur-sumur warga Dukuh Brungkah, Pakisan, Cawas, pada Senin (27/6/2011.

Kepala Dinkes Klaten, dr Ronny Roekmito kepada Espos, Sabtu (25/6/2011), mengatakan uji ulang tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kondisi air sumur setelah ditaburi kaporit sejak pertengahan bulan Mei lalu. Sebelumnya, air di sumur-sumur warga Dukuh Brungkah dipastikan positif mengandung bakteri Eschericia coli (E Coli) yang mengakibatkan wabah muntaber beberapa bulan lalu.

Untuk membunuh bakteri E Coli itu, Dinkes Klaten melalui petugas Puskesmas Cawas menabur kaporit di sumur-sumur warga. Namun begitu, kaporit tersebut ternyata membawa dampak buruk bagi warga setempat. Mereka merasa gatal-gatal setelah menggunakan air sumur mereka. “Kalau tubuh tidak kuat, air yang mengandung kaporit memang bisa menyebabkan gatal-gatal. Tetapi, mestinya gatal-gatal itu bisa hilang ketika penaburan kaporit itu dihentikan,” tukas Ronny.

Untuk memastikan kandungan air di sumur-sumur warga terbebas dari bakteri E Coli, Dinkes Klaten akan melakukan uji ulang pada Senin nanti. Menurutnya, petugas Puskesmas Cawas akan mengambil sampel sejumlah sumur di permukiman warga untuk diteliti kandungan air di Laboratorium Dinkes Klaten. “Kami ingin mengetahui setelah diberi kaporit apakah bakteri itu sudah hilang. Uji laboratorium akan dilakukan secepatnya agar segera bisa diketahui hasilnya,” kata Ronny.

Kepala Dukuh Brungkah, Suryono mengatakan saat ini warga masih takut menggunakan air di sumur mereka setelah merasakan gatal-gatal. Dia mengakui, wabah muntaber saat ini memang sudah berhenti. Tetapi warga masih takut menggunakan air sumur setelah ditaburi kaporit. “Warga memilih menggunakan bantuan air dari Pemkab Klaten meskipun kadang masih datang terlambat,” terang Suryono.

Dikatakan Suryono, saat ini saat ini warga masih menunggu Dinkes Klaten untuk mengambil sampel air dan memastikan kalau air sumur sudah berada dalam keadaan normal dan aman untuk dikonsumsi.

mkd

26 Juni 2011 Posted by | Kesehatan, Pakisan | , | Tinggalkan komentar

Usai Muntaber, Warga Cawas Diserang Penyakit Gatal-gatal

Indratno Eprilianto – Timlo.net

Klaten – Kegelisahan kembali menyelimuti warga Dukuh Brungkah, Desa Pakisan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Setelah dilanda muntaber, kini mereka dipusingkan dengan penyakit gatal-gatal.

Sedikitnya ada sejumlah 9 warga saat ini mulai menderita penyakit gatal-gatal setelah menggunakan air sumur yang sudah diberi kaporit sepekan terakhir.

Joyo Sudarmo (75), warga setempat mengaku mulai menghentikan pemakaian kaporit untuk sumurnya setelah mengalami rasa gatal-gatal diseluruh tubuhnya usai mandi.

“Lima hari lalu, tiba-tiba saja kulit tubuh saya terasa gatal-gatal setelah mandi. Kemudian saya langsung memeriksakan ke puskesmas. Mungkin saja karena penggunaan kaporit selama ini,” ujarnya, Sabtu (28/5).

Joyo menerangkan, penggunaan kaporit di sumur-sumur warga guna mematikan bakteri E-Coli penyebab muntaber. Namun kali ini efek gatal-gatal setelah kaporit mulai dirasakan warga.

“Sekarang saya memilih mandi di sumur yang belum dikaporit. Karena setelah diberi kaporit air sumur akan keruh dengan warna kekuning-kuningan. Agar air sumur kembali jernih, dibutuhkan waktu tiga sampai empat hari,” terang Joyo.

Kadus III, Suryono mengakui penyakit muntaber yang menimpa warga Brungkah mulai berkurang. Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten juga sudah turun tangan dan memberikan pemaparan tentang pola hidup bersih. “Seluruh warga juga diberikan sabun antiseptik untuk menjaga kemungkinan timbulnya penyakit,” kata Suryono.

Meski demikian, Suryono mengakui dalam sepekan terakhir ada laporan warga yang mengalami gatal-gatal setelah menggunakan air sumur yang telah diberi kaporit. “Dengan penyakit gatal-gatal pada kulit, sebagian besar warga mulai menghentikan pemakaian kaporit,” paparnya.

Menurut Suryono, gatal-gatal yang menyerang warga akibat pemakaian kaporit tersebut langsung dilaporkan kepada pihak puskesmas setempat. Dari keterangan puskesmas, menurut Suryono, munculnya gatal-gatal  pada kulit diperkirakan reaksi kimia pada air. “Warga juga dianjurkan untuk mengurangi separuh dari kemasan kaporit ditaburkan pada sumur,” jelasnya.

Sementara itu, atas kejadian timbulnya gatal-gatal tersebut, warga setempat bersepakat untuk menghentikan pemakaian air sumur yang terlanjur diberi kaporit baik untuk mandi atau aktifitas mencuci.

Warga khawatir lantaran setelah menggunakan air untuk mandi maka keesokan harinya akan mengalami rasa gatal. Sebelumnya, warga setempat tidak berani untuk memanfaatkan air sumur sebagai air minum setelah diketahui puluhan warga terkena muntaber.

Dengan kasus muntaber, dari pihak Dinkes kemudian menyarankan kaporitasi pada sejumlah sumur yang diduga menjadi penyebab penyakit muntaber.

29 Mei 2011 Posted by | Kesehatan, Pakisan | , | Tinggalkan komentar

Muntaber di Cawas belum KLB

Klaten (Solopos.com)--Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Klaten, Ronny Roekmito menyatakan bahwa serangan Muntaber kepada puluhan warga Dukuh Brungkah, Desa Pakisan, Kecamatan Cawas, Klaten selama ini belum dinyatakan kejadian luar biasa (KLB).

Pasalnya, keputusan untuk menentukan status KLB berada di tangan Bupati alias harus ada Surat Keputusan (SK) Bupati. “Pernyataan KLB itu harus ada SK Bupati. Dan Camat tak berhak menyatakan KLB,” kata Ronny kepada Espos, Kamis (28/4/2011).

Camat Cawas, Pri Harsanto sebelumnya menyatakan bahwa Muntaber yang menyerang warganya sudah masuk KLB. Selain karena banyaknya warga yang terserang dalam satu wilayah, sebagian warganya juga harus dilarikan ke Puskesmas setempat. Saat dimintai konfirmasi terkait hal itu, Pri mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada Dinkes Klaten. “Apakah itu masuk KLB atau tidak, agar dimintakan konfirmasi ke Dinkes,” katanya melalui pesan singkatnya.

Lebih lanjut Ronny menjelaskan bahwa termonilogi KLB selama ini banyak yang tak dipahami banyak pihak. Terkait itulah, pihaknya meminta jika ada kejadian di suatu wilayah agar masing-masing pihak tak mudah mengatakan KLB.

(asa)

29 April 2011 Posted by | Bencana, Kesehatan, Pakisan | , | Tinggalkan komentar

RSI Cawas resmikan gedung baru

Klaten (Espos)--Rumah Sakit Khusus Bedah Islam (RSKBI) Cawas meresmikan gedung rawat inap baru, Sabtu (19/2) di RS setempat.

Acara peresmian dipimpin langsung oleh Camat Cawas, Ir Pri Harsanto dan dihadiri segenap karyawan RSKBI Cawas. Selain meresmikan gedung baru, acara juga diisi dengan pengajian untuk memperingati Maulid Nabi dengan menghadirkan pembicara ustaz Muhajir dari Kota Susu, Boyolali.

Humas RSI Klaten, Agus Susanto menjelaskan, dengan diresmikan gedung baru RSKBI, diharapkan pelayanan RS tersebut kepada masyarakat menjadi lebih optimal.

asa

21 Februari 2011 Posted by | Kesehatan, Umum | , | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.