Oleh : Aries Susanto

Alat tenun itu tak lagi bergoyang. Debu dan sarang laba-laba membungkusnya seperti berkisah tentang kesepian. Dua bulan terakhir ini, alat tenun bukan mesin (ATBM) itu memang tak lagi bersuara riuh.
Di sana, yang tersisa hanyalah kenangan masa silam tentang kejayaan kain lurik ATBM. “Sekarang, sudah kalah dengan lurik buatan mesin. Kami tak bisa berbuat apa-apa,” kata Abdul Hamid pasrah.
Pengusaha lurik asal Dukuh Klebengan, Desa Juwiran, Kecamatan Juwiring, Klaten itu sebelumnya memiliki 40-an tenaga kerja penenun kain lurik ATBM. Ketika kain lurik mencapai puncak keemasannya, permintaan kain membanjir hingga membuat para pekerjanya harus memeras keringat siang malam. “Sampai-sampai pemesan harus antre lama. Padahal, kami memproduksi kain lurik 400-an meter dalam sehari. Tapi tetap saja kewalahan,” kenangnya di kediamannya, Rabu (23/2).
Menjelang tutup tahun 2010, langit kelabu seakan menggantung di tempat usaha Hamid. Lurik dari Kabupaten Jepara, Kudus, serta Pekalongan tiba-tiba membanjir ke Kabupaten Klaten. Pria yang menekuni usaha lurik sejak tahun 1957 silam itu dibikin terheran-heran setengah tak percaya. “Jumlahnya sangat banyak. Di mana-mana orang menawarkan kain lurik dengan harga lebih murah,” jelasnya.
Saat itulah, Hamid merasakan betul goncangan hebat yang menimpa usahanya. Permintaan luriknya anjlok drastis. Harga benang melonjak hingga nyaris 300%. “Pokoknya harga benang gila-gilaan,” katanya.
Meski berat, Hamid pun terpaksa mengambil keputusan pahit. Puluhan tenaga kerjanya dirumahkan satu demi satu. Untuk menjaga agar alat tenunnya tetap bisa bergoyang, kini dia hanya mempekerjakan sepuluh orang. “Itu pun, kalau kerja sudah tak penuh lagi. Permintaan sepi,” tambahnya.
Hamid tak sendirian. Ratusan bahkan ribuan pengrajin lurik di Kecamatan Cawas, Pedan, Delanggu, serta yang tersebar di sejumlah daerah di Klaten juga bernasib sama. Mereka merasakan betul dampak dari kehebatan teknologi yang mampu menciptakan beribu-ribu meter kain lurik-lurik dalam sehari dengan harga sangat murah. “Jika terus-terusan seperti ini, pengrajin lurik di Klaten mungkin tinggal kenangan,” keluh Miss Shobach, pengusaha lurik dari Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas.
-0.333300
117.433296
25 Februari 2011
Posted by d12kt |
Ekonomi, Tlingsing | Lurik, Tenun |
1 Komentar
Klaten (Espos)--Serangan hama wereng di lahan pertanian Kecamatan Cawas, Klaten hingga saat ini telah mencapai 299 Ha dari 2.318 Ha lahan pertanian se-Kecamatan Cawas. Jumlah tersebut tersebar di tujuh desa, yakni Tirtomarto, Balak, Japanan, Bogor, Tlingsing, Pogung, serta Pakisan.
Camat Cawas, Priharsanto menjelaskan, para petani di Kecamatan Cawas telah mencoba sejumlah langkah pengendalian hama wereng dengan baik. Namun, berbagai upaya yang dilakukan para petani tetap saja gagal. “Mulai semprotan pestisida bantuan pemerintah, hingga cara mandiri dengan solar. Namun, tetap saja tak mempan,” katanya kepada Espos, Rabu (9/2).
Menurutnya, para petani perlu menempuh upaya lain dalam mengendalikan hama wereng, yakni dengan pola tanam yang diberakan. Kedua ialah mengatur sistem drainase yang baik agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. “Pola tanam yang diberakan sekali dalam dua kali panen, akan mampu memutus siklus hama. Pengaturan drainase pengairan juga akan membuat tanaman tumbuh dengan baik karena genagan air bisa membuat tanaman rusak,” paparnya.
asa
-0.333300
117.433296
10 Februari 2011
Posted by d12kt |
Balak, Bogor, Japanan, Pakisan, Pogung, Tirtomarto, Tlingsing | Cawas News, Wereng |
2 Komentar
Klaten (Espos)–Banjir yang berulangkali menghajar Kecamatan Wedi (Cawas maskudnya) membuat warga Klaten di wilayah itu gerah. Prihatin atas kondisi tersebut, pemerintah kecamatan setempat bersama warga, Kamis (27/1) kemarin, menggelar aksi reboisasi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Kali Dengkeng.
Camat Cawas Priharsanto menjelaskan aksi itu dilakukan dengan menanam 1.475 bibit tanaman di tepian sungai yang merupakan anak sungai Bengawan Solo. Bibit yang ditanam beraneka ragam, mulai dari pohon jati, mahoni, jabon hingga tanaman buah-buahan seperti matoa, rambutan, sukun, nangka, bahkan petai.
“Harapan kami, tanaman tersebut bisa menjadi salah satu penahan tanggul yang kini kritis,” katanya kepada Espos, Kamis (27/1).
Lebih jauh dia menjelaskan, selama ini, wilayah Kecamatan Cawas merupakan daerah yang menjadi langganan banjir jika Kali Dengkeng meluap. Desa-desa yang menjadi langganan banjir itu ialah Desa Bawak, Cawas, Balak, Plosowangi, Baran, Tlingsing, Japanan serta Bagor. Kondisi tersebut bahkan nyaris selalu terjadi setiap kali hujan mengguyur. Akibatnya, puluhan hektare tanaman padi rusak, aktivitas sekolah dan perekonomian terhenti.
“Ini benar-benar menyengsarakan warga kami,” terangnya. Menurutnya persoalan kritisnya tanggul Dengkeng sudah kerap disampaikan kepada Pemkab Klaten. Namun karena keterbatasan anggaran, keretakan tanggul belum bisa diperbaiki. Salah seorang warga, Joko Sardjono menjelaskan kondisi tanggul Kali Dengkeng saat ini benar-benar membahayakan. Dengan adanya reboisasi secara massal di sepanjang DAS Kali Dengkeng tersebut, warga menurut dia berharap bencana banjir bisa diantisipasi.
asa
28 Januari 2011
Posted by d12kt |
Balak, Baran, Bawak, Bogor, Cawas, Japanan, Plosowangi, Tlingsing | Banjir, Cawas News, Kali Dengkeng |
Tinggalkan sebuah Komentar
Aneka makanan dengan bahan lokal tersaji apik di beberapa meja yang disediakan pada Lomba Saji Makanan Minim Glutein di area Outlet Temon, Dukuh Girimarto Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, Sabtu (24/10) lalu.
Sebanyak 53 tim dari berbagai wilayah di Kecamatan Cawas yang mengikuti lomba tersebut mengadu kemampuan mereka menyajikan masakan yang rendah glutein berbasis bahan lokal. Glutein adalah kandungan yang terdapat dalam tepung terigu atau tepung gandum. Meski sejumlah institusi penelitian telah mengembangkan pertanian gandum di Indonesia, pada kenyataannya gandum lebih banyak diimpor dari luar negeri.
Dalam kegiatan itu, peserta tidak hanya mencoba menyuguhkan makanan minim glutein, mereka pun berusaha menyajikan masakan karya mereka dengan penampilan paling menarik. Beberapa jenis hasil olahan peserta antara lain kue telapis, kue klepon ketan, tiwul ayu, lapis singkong dan brownies waluh. Ada pula makanan khas dari wilayah tertentu seperti geti mirasa dari Desa Bogor dengan bahan dasar wijen dan gula jawa.
Pada setiap masakan hasil kreasi mereka, peserta mencantumkan nama resep makanan dan rincian harga bahan-bahan yang dipakai. Beberapa peserta mengaku senang mengikuti lomba tersebut. Seperti yang dikemukakan Ny Hali, 42, dan Ny Eko Pakarti, 53. Hali menilai melalui kegiatan itu dirinya bisa berbagi informasi dengan teman-temannya yang lain. ”Lomba saji makanan minim glutein bisa menambah pengetahuan dan pengalaman kami,” ucap Pakarti.
Penanggung jawab Lomba Saji Makanan Minim Glutein, Anies Zulaikha menyampaikan, pada kegiatan itu, peserta lomba diminta membuat masakan dengan harga Rp 25.000 dengan ukuran satu porsi untuk 10-15 orang. ”Kami ingin mengangkat potensi makanan lokal yang sehat. Lomba itu dilaksanakan dalam rangka Hari Pangan untuk meningkatkan potensi lokal yang murah, sederhana dan digemari masyarakat,” ucap Anies dari LSM Gita Pertiwi Solo.
Direktur Eksekutif LSM Gita Pertiwi, Rossana Dewi R mengemukakan pihaknya berusaha ikut mendorong agar kaum ibu kreatif membuat masakan minim glutein. Terbukti melalui lomba itu, masakan rendah glutein bukan hanya menarik dilihat namun juga sedap, bahkan sehat disantap. Kenyataan itu membuktikan bahwa warga Klaten sejatinya tak tergantung produk impor seperti gandum.
Juara Lomba Saji Makanan Minim Glutein
Juara Nama Makanan Peserta Desa
I Nasi Tiwul Suminah Bogor
II Kroket Pisang Kepok Lastri Tlingsing
III Brownies Waluh Retno Bendungan
Harapan I Nasi Jagung - Baran
Harapan II Nasi Goreng Singkong - Kedungampel
Harapan III Bika Ambon - Baran
Sumber: Dokumentasi LSM Gita Pertiwi
- Oleh : Nadhiroh
3 November 2009
Posted by d12kt |
Baran, Bendungan, Bogor, Kedungampel, Tlingsing | Bika Ambon, Brownies Waluh, Glutein, Kroket Pisang, Nasi Goreng Singkong, Nasi Jagung, Nasi Tiwul |
Tinggalkan sebuah Komentar