Klaten (Espos)–Banjir yang berulangkali menghajar Kecamatan Wedi (Cawas maskudnya) membuat warga Klaten di wilayah itu gerah. Prihatin atas kondisi tersebut, pemerintah kecamatan setempat bersama warga, Kamis (27/1) kemarin, menggelar aksi reboisasi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Kali Dengkeng.
Camat Cawas Priharsanto menjelaskan aksi itu dilakukan dengan menanam 1.475 bibit tanaman di tepian sungai yang merupakan anak sungai Bengawan Solo. Bibit yang ditanam beraneka ragam, mulai dari pohon jati, mahoni, jabon hingga tanaman buah-buahan seperti matoa, rambutan, sukun, nangka, bahkan petai.
“Harapan kami, tanaman tersebut bisa menjadi salah satu penahan tanggul yang kini kritis,” katanya kepada Espos, Kamis (27/1).
Lebih jauh dia menjelaskan, selama ini, wilayah Kecamatan Cawas merupakan daerah yang menjadi langganan banjir jika Kali Dengkeng meluap. Desa-desa yang menjadi langganan banjir itu ialah Desa Bawak, Cawas, Balak, Plosowangi, Baran, Tlingsing, Japanan serta Bagor. Kondisi tersebut bahkan nyaris selalu terjadi setiap kali hujan mengguyur. Akibatnya, puluhan hektare tanaman padi rusak, aktivitas sekolah dan perekonomian terhenti.
“Ini benar-benar menyengsarakan warga kami,” terangnya. Menurutnya persoalan kritisnya tanggul Dengkeng sudah kerap disampaikan kepada Pemkab Klaten. Namun karena keterbatasan anggaran, keretakan tanggul belum bisa diperbaiki. Salah seorang warga, Joko Sardjono menjelaskan kondisi tanggul Kali Dengkeng saat ini benar-benar membahayakan. Dengan adanya reboisasi secara massal di sepanjang DAS Kali Dengkeng tersebut, warga menurut dia berharap bencana banjir bisa diantisipasi.
asa
28 Januari 2011
Posted by d12kt |
Balak, Baran, Bawak, Bogor, Cawas, Japanan, Plosowangi, Tlingsing | Banjir, Cawas News, Kali Dengkeng |
Tinggalkan sebuah Komentar
Klaten (Espos)--Sekitar 285 ha lahan pertanian yang tersebar di Kecamatan Cawas nekat ditanami padi oleh para petani. Padahal, para petani sudah dianjurkan menanam palawija sebagai upaya memutus siklus hama wereng cokelat.
Camat Cawas, Ir Pri Harsanto kepada Espos, Jumat (16/7), mengatakan. 285 ha lahan pertanian yang ditanami padi itu tersebar di enam desa yakni Bawak seluas 44 ha, Cawas seluas 43, Plosowangi seluas 105 ha, Mlese seluas 17 ha, Pakisan seluas 3 ha dan Baran seluas 73 ha. Dia mengaku selama ini sudah menyosialisasikan anjuran petani menunda musim tanam padi guna memutus siklus hama wereng.
Akan tetapi, dia mengakui Pri, masih banyak petani yang mengabaikan anjuran itu. “Melalui pertemuan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) atau para petugas penyuluh lapangan (PPL), sosialisasi penerapan pola tanam yang ideal, yakni padi-padi-palawija sudah kami gencarkan. Akan tetapi, petani masih nekat menggunakan pola tanam padi-padi-padi,” tuturnya.
Selain menggencarkan sosialisasi pola tanam ideal, kata Pri Harsanto, sejumlah upaya lain sudah dilaksanakan untuk menyadarkan petani akan pentingnya membunuh siklus hama wereng cokelat. Di antaranya dengan membuka Posko pengendalian hama wereng dan pemberian surat edaran berisi anjuran petani menunda musim tanam padi.
Sebelumnya, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dispertan Klaten, Wahyu Prasetyo menguraikan, upaya memutus rantai perkembangbiakan hama wereng cokelat dilakukan dengan eradikasi, beralih ke palawija atau menunda penanaman padi hingga September. Namun bagi petani yang nekat menanam padi, lanjutnya, akan terus didampingi dalam pengendalian wereng cokelat.
mkd/rei
17 Juli 2010
Posted by d12kt |
Baran, Bawak, Cawas, Mlese, Pakisan, Plosowangi | Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Padi, Wereng |
Tinggalkan sebuah Komentar
Klaten (Espos)–Seorang buruh, Wardiyono alias Medi, 25, warga Semowo, Plosowangi, Kecamatan Cawas diringkus polisi karena diduga mencabuli RN, 15, pelajar kelas II SMP yang tak lain adalah adik iparnya sendiri. Pelaku kini meringkuk di tahanan Mapolres Klaten untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sebelumnya, pelaku nyaris menjadi korban kemarahan massa yang merasa jengkel dengan ulahnya yang berbuat tidak senonoh terhadap korban.
Keterangan yang dihimpun Espos, Selasa (9/3), di Mapolres Klaten, menyebutkan, pada Sabtu (5/3) malam lalu, pelaku mendatangi rumah mertuanya di Cawas untuk mengembalikan sepeda motor Yamaha Mio yang dipinjam istrinya.
Waktu itu, korban yang sedang duduk-duduk di warung dimintai tolong oleh pelaku untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Menggunakan motor Mio, kedua insan berlainan jenis itu berboncengan ke rumah pelaku. Dalam perjalanan menuju rumah pelaku, korban diubeng-ubengke di tengah sawah yang sepi. Kemudian pelaku mendekap korban dan mengajaknya bersetubuh.
Namun korban berontak dan berteriak minta tolong. Korban berusaha lari dari cengkeraman si kakak ipar, tapi mulutnya malah dibungkam dengan tangan. Setelah pelaku puas melancarkan nafsu bejatnya, korban dibawa pulang ke rumah pelaku. Sesampainya di rumah, pelaku masuk lewat pintu belakang.
Pelaku kemudian menyuruh korban pulang. Korban pun menceritakan kejadian yang dialaminya kepada orangtuanya. Tak terima dengan perlakukan yang diterima si buah hati, orangtua korban melapor ke polisi.
Kasatreskrim Polres Klaten, AKP Edy Suranta Sitepu mengungkapkan, pelaku dibekuk dan dimintai keterangan atas perbuatan yang dituduhkan kepadanya.
“Pelaku dijerat Pasal 82 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara,” jelasnya mewakili Kapolres Klaten, AKBP Agus Djaka Santosa.
10 Maret 2010
Posted by d12kt |
Plosowangi | Cawas News |
Tinggalkan sebuah Komentar
Cawas (Espos) Hama wereng menyerang sekitar empat hektare tanaman padi petani di Desa Plosowangi Kecamatan Cawas, Klaten, sejak beberapa pekan terakhir.
Akibatnya, tanaman padi petani rusak sehingga dikhawatirkan jumlah produksi pada masa panen sekarang turun. Demikian diungkapkan Kepala Desa (Kades) Plosowangi, Suhana, saat ditemui Espos di kantornya Selasa (24/2). ?Ada sekitar 20 petak lahan di blok F, G dan H yang tanaman padinya diserang wereng ganas. Beberapa petak di antaranya mengalami tingkat kerusakan parah, produksinya hanya sekitar 15 persen dari luasnya,? ujar dia.
Suhana menambahkan, serangan hama wereng mengakibatkan tanaman padi kering atau mati. Dia memperkirakan, hama wereng berasal dari daerah di sekitarnya. Guna meminimalisasi dampak serangan, pihaknya telah berkoordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL) setempat. Bahkan PPL telah turun langsung membantu upaya penanggulangan hama dengan insektisida kimia.
Suhana melanjutkan, serangan hama wereng bisa disebabkan karena curah hujan yang tinggi. Bisa juga disebabkan oleh pola penggunaan pestisida yang salah atau kurang tepat. Serta yang biasa terjadi, yaitu pola tanam padi petani yang tidak serentak. ?Daerah kami langganan diserang hama wereng. Pada masa tanam depan kami juga masih waspadai ancaman jenis hama ini,? imbuhnya.
Pada bagian lain, seorang petani di Desa Sribit Kecamatan Delanggu, Raharjo, mengeluhkan serangan hama keong emas sejak beberapa pekan terakhir. Padahal umur tanaman padinya baru sekitar 25 hari. Penyebab serangan keong emas yaitu curah hujan yang tinggi sehingga mengakibatkan genangan air di persawahan. ?Ya repot, setiap hari mesti jaga-jaga di sawah sambil mengambil keong secara manual,? katanya. – Oleh : kur
22 Maret 2009
Posted by d12kt |
Cawas, Plosowangi | Cawas News |
Tinggalkan sebuah Komentar